Virus HIV/AIDS Memang Menular Tapi Bukan Berarti Gampang Menular

Sabtu, 1 November 2018 pukul 1.55 am


Kurang lebih sekitar 20 menit yang lalu, saya menonton sebuah video di Youtube mengenai pengakuan seseorang yang terkena penyakit HIV/AIDS. Entah mengapa hasrat ingin berpartisipasi mengeluarkan opini mengalir begitu saja. Video berdurasi kurang lebih 14 menit ini membuat banyak orang melontarkan komentar baik maupun buruk.

Awal mula saya berkeinginan untuk menontonnya karena video ini selalu muncul di halaman awal tampilan akun Youtube saya. Sedikit takut namun rasa penasaran justru lebih mendominasi. Berbagai pertanyaan terkait kemunculan video ini selalu hadir setiap kali saya membuka aplikasi Youtube. Setelah pada akhirnya pagi ini aku putuskan untuk menontonya.

Video ini menjelaskan mengenai pengakuan seseorang terkait bagaimana dia bisa terjangkit penyakit mematikan tersebut. Mulai dari berganti-ganti pasangan, kemudian sampai pada melakukan “hubungan beresiko”. Dalam video yang saya tonton juga dijelaskan mengenai gejala-gejala yang terlihat ketika seseorang terjangkit penyakit HIV/AIDS. Jujur, menurut saya ini mengkhawatirkan. Entah mengapa opini saya menjadi berbeda setelah saya menonton video ini.

Saya sangat peduli dan selalu mengkhawatirkan orang-orang yang memiliki “hal spesial” semacam itu. Rasa keingintahuan mendorong saya bahkan untuk lebih mendekat dengan hal-hal seperti itu. Setelah saya menonton habis tayangan berdurasi 14menit 16detik, kemudian seperti biasanya saya selalu mencocokkan opini saya dengan mereka; orang-orang yang berkomentar dalam video itu.

Banyak orang-orang berkomentar positif dengan mendukung dan memberi do’a untuk kebaikan penderita HIV/AIDS, namun ada pula yang justru dengan terang-terangan menyampaikan kekhawatiran terkait kontak fisik dengan si penderita. Sebenarnya tulisan ini belum pada point yang saya akan ungkapkan.

Jadi point-nya adalah saya keberatan atas apa yang diucapkan oleh si penderita didalam video pengakuannya. Bagaimana bisa dia mengungkapkan melalui video tentang keinginannya menikah namun jarang ada wanita yang mau mengerti atau terbuka tentang kondisinya yang notabenenya ia adalah penderita penyakit HIV/AIDS?

Wait a minutes! Maaf. Mungkin ini sedikit menyinggung. Tapi berdasarkan fakta bahwa penyakit HIV/AIDS belum bisa disembuhkan 100% atau bisa dikatakan belum ada obatnya. Sedangkan terkait dengan penularannya adalah melalui transfusi darah dan hubungan seks bebas. Kita tahu semua itu. Memang wajar semua orang pasti menginginkan untuk memiliki pendamping hidup yang mau menerima apa adanya. Dengan catatan “tidak dengan paksaan”. Tak ada satupun yang mau terjangkit oleh penyakit mematikan ini. Tapi perlu kita garis bawahi bahwa penyakit ini tidak datang dengan sendirinya. Orang-orang banyak mengatakan bahawa penyakit ini adalah “azab” yang diturunkan oleh Sang Maha Pencipta bagi orang-orang yang tidak memiliki pedoman. Saya katakan setuju dengan opini tersebut. Kenapa? Penyakit ini memang menular tapi bukan berarti gampang menular. Penyakit ini punya cara khusus untuk menularkan virusnya.

Orang-orang yang sehat atau tidak tertular virus HIV/AIDS tidak sama sekali memiliki pikiran untuk menjauhi mereka yang tertular virus. Memiliki sikap waspada bukan berarti menjauhi. Orang tersebut justru mendukung kalian agar penyakit ini tidak sampai mewabah kesemua kalangan. Kalau tertular karena ketidak sengajaan mungkin masih bisa dimengerti. Tapi kalau karena kesalahan sendiri seperti dalam video pengakuan berdurasi kurang lebih 14 menit, penderita tersebut juga harus mau menerima konsekuensinya. Mereka boleh saja mengeluh, tapi tidak memiliki hak untuk memaksa masyarakat agar mengubah pola pikirnya. Mereka dan orang-orang yang mendukung hanya boleh menyarankan, tidak boleh memaksa apalagi menghakimi orang lain yang tidak sepemikiran. Orang lain memiliki pendirian pribadi masing-masing.

Penderita HIV/AIDS tidak pantas untuk dijauhi. Mereka butuh dukungan kita, mereka berhak untuk dicintai dan mencintai. Tapi tidak perlu untuk mengorbankan orang lain dengan resiko yang bahkan bisa mencapai 50% penularan virus HIV/AIDS.

Mari tetap support saja.

Ditulis oleh Nia Intania

Komentar

Postingan Populer