Hi, Desember!
Terlalu banyak moment yang aku lewatkan begitu saja. Moment dimana aku merasa seolah bertingkah lebih dewasa. Memecahkan masalah dengan opiniku, melangkah sesuai dengan kemauanku. Tapi ku pikir ini semua hanya permulaan. Dampak yang ku terima belum lah fatal. Aku belajar bagaimana mengolah hidup, bagaimana menikmati hidup dan tentunya mensyukuri hidup.
Tak disangka tahun ini cukup berat, namun berkat kuasa-Nya, aku dengan mudah dapat melalui semuanya. Sebenarnya aku benci dengan penyesuaian. Walau pada dasarnya proses yang terjadi pada masa penyesuaian hanya dilakukan berulang. Kau tau kenapa aku benci? Karena disitu kepura-puraan terjadi. Aku bukanlah aku.
Sudah terlalu banyak kekecewaan terpendam. Ku kira tahun ini akan jadi tahun yang indah seperti ekspektasiku dulu. Tapi tak apa, tahun akan segera berganti. Aku hanya ingin menceritakan keluh kesahku selama ini, Desember. Tolong dengarkan!
***
Pada saat itu... sebelum proses perayaan kelulusanku diselenggarakan, aku paham sekali semua terasa sangat dipaksakan. Perumpaan yang baik dengan moment sakral itu adalah "You must be ready!". Entah kesalahan fatal atau sebuah keberuntungan. Banyak hal yang menjadi pertimbangan saat semua sudah di penghujung. Sebelumnya aku sangat ingin berterima kasih kepada orang-orang terdekat yang selalu mendukung dan membantu-ku untuk menciptakan takdir yang indah. Aku sadar semua itu tak mampu terbalaskan. Semoga Allah senantiasa menolong kalian.
Hei, Desember! Aku sangat bahagia karena sahabat terdekatku senantiasa membantu. Tapi kau tau, ada satu hal yang membuatku sedih dan kecewa. Sedih karena Ayah tak bisa mendampingiku pada saat acara. Kecewa karena sahabat yang "katanya" dekat denganku dari awal OSPEK/MOS sengaja tak hadir saat acara sakral diselenggarakan. Pantas kah aku untuk marah? Pertanyaan demi pertanyaan terlontar oleh mereka yang menyadari ketidakhadirannya. Namun tetap saja, aku selalu menutupi perilaku buruknya. Bukankah itu yang dinamakan teman?
Ayah,, aku hanya ingin mengatakan ini sejak dulu. Aku bukanlah anak yang sempurna seperti yang Ayah inginkan. Tak perlu untuk terlalu membangga-banggakan aku. Jiwa minder ini tak bisa selalu bersembunyi. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan aku ingin Ayah bangga dengan apa adanya diriku.
Ada beberapa hal yang tak bisa aku ceritakan padamu, Desember.
***
Perayaan sakral telah berlalu dengan cepat. Kau tau, kondisi setelah-nya benar-benar menekanku. Kurang lebih satu bulan aku menghabiskan waktu dirumah. Perasaan resah dan gelisah selalu menghantuiku. Aku memutuskan untuk mengadu nasib dikota orang. Aku baru sadar, semua tak selalu sesuai dengan ekspektasi. Akhirnya kondisiku tetap sama berdiam dirumah tanpa aktivitas apapun. Kurang lebih satu bulan, mimpi indahpun menjadi kenyataan. Senang bercampur sedih. Andai mereka tak mengundangku di jam dan hari yang sama.
Keputusan sudah diambil.
Sabtu, 20 April 2019 hari pertama aku masuk kedalam lingkungan yang baru. Bukan rasa bahagia yang menguasai, namun justru kesedihan yang hadir. Aku paham, aku hanyalah seorang fresh graduate. Kembali lagi dengan sifat bersyukurku yang mendominasi. Aku mencoba menjalani takdir sebagai pemula.
Aku kira situasi ini akan segera berlalu. Lingkungan seperti tak menyambutku. Aku merasa orang-orang disana cukup kejam memperlakukanku. Apakah karena asal-usulku? Kadang pikiranku bertanya-tanya. Insting manusia dalam bertahan hidup kadang tak sesuai dengan yang seharusnya dilakukan. Seburuk apapun pikiranku, percayalah aku tak akan setega itu. Kalau saja hal buruk terjadi, lalu apa bedanya aku dengan mereka?
Dari dulu aku merasa aku adalah orang yang selalu tak ingin ikut campur dengan urusan orang lain. Orang terdekat mengatakan kalau aku memiliki sifat apatis. Entah hal baik atau buruk, yang jelas aku bersyukur memilikinya. Mungkin karena sifat inilah yang membuat orang dapat dengan mudah meremehkan atau bahkan merendahkan-ku. "Ya sudahlah yaa.." kata-kata itu yang selalu menguasai diri ketika emosi mulai berkembang. Kadang sifat ini juga membuatku kesal. Sifat yang selalu pasrah dengan semua keadaan, menganggap everything is going to be alright, menerima semua perilaku buruk orang lain dan dengan mudah memaafkan dan melupakan-nya.
Lelah sih...
Hei Desember, kenapa aku bisa berada dilingkungan seperti ini? Apa yang sudah ku perbuat in the past? I'm the cool one, aren't I? Salah seorang yang memilih diam dan menjauhi masalah. But I'm not the perfect one. Boleh lah sesekali kalian menghakimi-ku namun dengan alasan yang logis. DAN dengan cara yang lebih cool. Pengalaman awal masuk kerja bisa dibilang berkesan dan menjengkelkan. Pertama kalinya bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. They're good in terms of responsibility. But their behavior and speech are worse than the worst thing I've ever experienced.
Insting bertahan hidupku kala itu muncul tak seperti biasanya. Aku dengan kepolosanku menyelamatkan diri ini dari dunia kegelapan. Kau tau, Desember? Perasaan yang mucul saat itu bukanlah perasaan dendam dan marah. Namun perasaan prihatin dan miris. Mereka dianugerahi keindahan pada wajah dan kecerdasan, tapi tak mereka manfaatkan dengan baik. Back to sentence, I'm not the perfect one. Hei! Ini bukan tentang pergaulan dan lingkungan dimana mereka berada. Aku pikir, semua itu kembali pada individu masing-masing. They can be whatever they want to be. Tapi mungkin this is their choice. Terkadang pikiran ini menguasai diri, menanyakan hal-hal yang bahkan tak bisa aku tanyakan secara langsung pada mereka. Why do they do these things? Apa mereka tidak belajar dengan alam. Apa yang mereka tanam, itu lah yang mereka tuai.
Desember, tolong ingatkan aku bahwa tak semua orang memiliki pemikiran yang sama!
Kita hidup dibawah langit yang sama. Kita sama-sama memiliki otak untuk berfikir. Bukankah damai itu indah?
to be continued...
"Always be positive thingking and apathetic." Niana

Komentar
Posting Komentar