About Me
Nama saya Nia Intania, lahir di Purbalingga, 25 September 1996. Saya anak kedua dari tiga bersaudara, buah dari pasangan Makhrudin dan Chamini. Intan adalah panggilan akrab saya. Terlahir dari keluarga yang sederhana dan harmonis. Ayah saya seorang Wiraswasta, sedangkan Ibu hanya seorang Ibu Rumah Tangga. Sejak kecil mereka selalu berkata, "Lakukan apapun dengan mandiri selagi kamu mampu melakukannya. Dan yang terpenting adalah menjadi pribadi yang jujur dan bertanggung jawab.". Ayah saya adalah orang yang sangat peduli akan sebuah pendidikan formal. Kata-katanya yang selalu saya ingat yaitu "Walaupun Bapak hanya SMP, bukan berarti anak Bapak juga meneruskan sekolah sampai jenjang SMP juga. Carilah ilmu selagi Bapak masih sanggup membantu membiayai biaya sekolahmu, nak.". Itulah kata-kata Bapak yang selalu menjadi motivasi untuk saya.
Saya masih ingat ketika dulu berumur 5 tahun, pada suatu acara Manasik Haji, saya datang dengan kondisi yang sangat tidak baik. Mata saya lebam akibat digigit semut. Dan saat itu cuaca begitu sangat panas sehingga membuat penglihatan saya menjadi sedikit tidak jelas. Waktu itu saya masih Taman Kanak-kanak di Cijoho, Kuningan, Jawa Barat. Saya datang bersama Ayah. Dan Dia satu-satunya lelaki(orang tua) yang menjadi perwakilan untuk menemani saya disana.
Semenjak lulus dari Taman kanak-kanak tahun 2002, saya dipindahkan ke SD Negeri 1 Losari; sekolah kampung halaman. Tepatnya ketika saya duduk di bangku kelas 2. Perpindahan siswa bukanlah hal yang sangat mudah. Saya harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, ditambah saya masih kesulitan memahami bahasa mereka. Tapi tetap, bukan Intan namanya kalau ia tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan. Di Sekolah Dasar saya selalu mendapatkan peringkat terbaik. Saya ingat selalu, Ayah selalu memberi motivasi ketika saya dapat mencapai tujuan. Salah satu contoh yang masih saya ingat yaitu ketika Ayah membelikan saya sepeda berwarna merah muda dengan keranjang besar didepannya, karena waktu itu saya masuk peringkat di 5 besar. Begitulah kehidupan ini berjalan. Dan kemudian saya lulus pada tahun 2008.
Sekolah yang menjadi tempat saya menimba ilmu selanjutnya adalah SMP Muhammadiyah 5 Purbalingga. Disekolah ini, saya mulai mengikuti banyak kegiatan, seperti Hizbul Wathan, OSIS dan Tapak Suci. Mungkin bisa dikatakan kalau saya adalah orang yang hyperactive. Sampai tiba saatnya ketika tubuh saya tidak bisa menampung banyak kegiatan lagi. Typus menghampiri. Tapi untungnya kegiatan itu sudah hampir berlalu karena saya harus fokus pada Ujian Nasional. Bahagia bercampur sedih ketika kenyataan yang harus dihadapi adalah harus meninggalkan sekolah (2011) yang sudah saya anggap seperti rumah dan keluarga saya sendiri.
Ayah saya selalu berkata, masa yang paling indah adalah masa-masa SMA. Benar saja begitu. SMA Negeri 1 Rembang Purbalingga adalah sekolah tempat dimana saya belajar berfikir kritis. Masih sama dengan pada waktu saya SMP, kegiatan demi kegiatan saya jajal. Memang menyenangkan. OSIS, Pramuka, Sinematografi, Latihan Paduan Suara, dan masih banyak lagi. Ketika saya menjadi murid baru di sekolah ini, saya menemukan tim terhebat dalam hidup. Dimana kita saling berbeda-beda namun tujuan tetap sama. Mungkin pada dasarnya atau bisa saja kita tidak saling suka, namun bukan berarti ego kita menguasai diri. Pernah ada suatu event dimana kita(satu kelas) menjadi satu tim. Keprofesionalitas kita mengalahkan semuanya. Akhirnya kita jadi pemenang Juara 1 Sepak Bola Wanita. Unik dan lucu. Dan pada akhirnya kita lulus pada tahun 2014.
Setelah lulus dari masa-masa indah itu, kini saya kembali berperang dengan ilmu. Universitas Muhammadiyah Purwokerto menjadi pilihan saya selanjutnya. Siapa sangkat kalau ternyata saya mengambil jurusan Teknik Informatika, which is sedikit peminat untuk kaum wanitanya. Berdasarkan yang saya alami, hanya ada 10 wanita dari kurang lebih 70 mahasiswa untuk satu angkatan. Memang terbilang sedikit. Dan karena sedikitnya popularitas wanita disana, kita menjadi merasa diistimewakan. Haha. By the way dimasa inilah saya baru menyadari kalau perkataan Ayah saya memang benar adanya. "Masa yang paling indah adalah masa-masa SMA."
Masih berjuang di Universitas tercinta...





Komentar
Posting Komentar